Perjalanan Ini

Perjalanan Ini

Koleksi

Showing posts with label Islam Hidupku. Show all posts
Showing posts with label Islam Hidupku. Show all posts

Monday, March 14, 2011

Kita dan Cinta

Setelah pernikahan antara Ali dan Fatimah, maka Fatimah pun berterus terang kepada Ali. 
“Wahai Ali, sebelum aku bernikah dengan engkau di Kota Mekah ini, ada seorang pemuda yang menjadi idola di hatiku. Aku sangat inginkan kelak dia menjadi suamiku. Tapi semuanya itu aku simpan di dalam hatiku,” kata Fatimah. 
“Kalau begitu engkau menyesal menikahi aku? Tanya Ali. 
“Tidak, kerana pemuda itu adalah engkau.” Jawab Fatimah. 
(petikan dari http://www.facebook.com/notes/salman-al-farisi/persahabatan-antara-lelaki-dgn-wanita/10150113988058953)


Seperti laut dan ombak, seperti itulah manusia dan cinta. 
Seperti rembulan dan malam hari, seperti itulah manusia dan kasih sayang.
Seperti mentari dan siang hari, seperti itulah lelaki dan wanita.


Dalam kisah di atas, ternyatalah bahawa mereka yang paling bertaqwa sekalipun tidak bisa dipisahkan daripada sebuah perasaan yang mendamaikan, mendambakan sesuatu, dan menggegar jiwa dan sanubari. Kerana mereka juga ialah manusia. 


Itulah dia cinta.


Kali ini, kita tidak berbicara tentang perasaan cinta itu sendiri, kerana sudah banyak buku di luar sana yang membicarakan perihal itu. Dan mungkin anda sendiri lebih menguasai hal tersebut berbanding saya.


Sebaliknya, kita sedang berbicara bagaimana untuk menyalurkan perasaan tersebut ke jalan yang terbaik dan diredhai Allah. 


Fatimah ra mendambakan Ali ra, namun dia menjaga, dan tidak melanggari batasan syarak, hinggalah dia menikah dengan Ali ra. 


Memendam perasaannya.
Merindui kehadirannya.
Mendambakan sosok idamannya.
Menanti saatnya....


Akhirnya, setelah menikah, diluahkan segala isi hatinya itu, dengan penuh rasa kasih sayang dan cinta. Dan cintanya bersambut, itu sudah pasti! 


Jagalah dirimu, atau lebih tepat, diri kita, sebelum menikah.


Nah, ambillah link di bawah, moga meningkatkan motivasimu. :)


http://hafiziazmi.webs.com/Potret%20Zaujahku%20by%20Alfi.pdf

_______

Teman,

sepinya diriku bukanlah beerti dirimu dilupai

tapi, cantiknya cara hidup ini mengajarku agar hati ini dijaga.

diri ini sering kali tertanya-tanya, “Apakah perkhabaranmu wahai sahabat?”

namun, ku bimbangi niatku ini disalah ertikan

bukan sahaja dirimu, malah diri ini sendiri.

bersabarlah teman, andai itulah keputusan imanmu,

andai tersalah anggapan ku, maka pilihlah mereka yang mana hatinya terikat pada dakwah dan tarbiyyah…

agar dirimu sentiasa terpelihara…

jika benarlah diriku, maka bersabarlah..sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar…

dan sesungguhnya aku juga dalam penantian….

penantian menunggu saatnya, untuk diriku menanyakanmu soalan itu…tanpa ragu dan bimbang……

“Jaga diri baik-baik ya” :D
_______

Kamal Haziq,
Manchester.



Thursday, February 10, 2011

Mihwar, Tarbiyah dan Mutabaah


Bismillahirrahmanirrahim dan Assalamualaikum.


Dakwah itu ada tahapan-tahapannya.
Ada mihwar-mihwarnya.


Daripada mihwar tanzimi kepada mihwar sya'bi kepada mihwar mu'assasi kepada mihwar daulah, setiap mihwar itu perlukan kepada pendokong-pendokongnya.

Dan, bak kata Ustadz Hilmi Aminuddin, Ketua Majlis Syuro PKS, tarbiyah itu adalah esensi walau dalam mihwar apa sekalipun. (Lebih kurang or exact words drpd beliau).

Semakin maju bergerak kepada mihwar yg seterusnya, maka kader-kader dalam suatu harakah MESTILAH bersedia. Bersedia bagaimana?

Semakin maju menyongsong satu mihwar ke mihwar yg seterusnya, cabarannya akan lebih getir. Tentangannya akan lebih dahsyat. Fitnah akan lebih berleluasa.

Menelusuri sirah Rasulullah SAW, perjalanan umat Islam tidak terhenti selepas mendapat daulah Islamiyyah di Madinah. Bahkan, cabaran dalam magnitud yang berintensiti lebih tinggi diperoleh. Peperangan demi peperangan tercetus, bermulalah daripada Perang Badar, Uhud, Tabuk, dan sebagainya demi menegakkan risalah. Dunia menyaksikan itu.

Maka, pabila cabarannya kian menggunung, dzatiyyah ahli-ahli harakah perlu diperkukuhkan. Tanzim perlu diperkasakan. Dari manakah asalnya sumber-sumber kekuatan itu? Jawapannya, iman dan tarbiyyah.

Cuba lihat profil kader-kader Partai Keadilan Sejahtera, saksikan sendiri mutabaah mereka (yg diri sndiri pun jauh lagi nak sampai). Andai kamu bisa penuhi mutabaah-mutabaah itu, maka kamu sudah bersedia memikul bebanan mihwar daulah. 

Andai belum, jom, sama-sama kita perkasakan diri kita. Penuhi mutabaah-mutabaah kita yang susah untuk lengkap atau mungkin ada sahaja lubang-lubangnya..lebih-lebih lagi kepada diri yang menulis...yang sendiri pun payah amat untuk melangsaikan mutabaahnya =( =( =(

- Kerana sesungguhnya medan menulis itu lebih kecil daripada medan berfikir... -

Sunday, January 9, 2011

Tragedi Cinta

Bismillahirrahmanirrahim dan Assalamualaikum.

(Petikan daripada Serial Cinta Tarbawi, karya Ustadz Anis Matta, Sekjen PKS)
Ada sisi lain yang menarik dari pengalaman emosional para pahlawan yang berhubungan dengan perempuan. Kalau kebutuhan psikologis dan bilogis terhadap perempuan begitu kuat pada para pahlawan, dapatkah kita membayangkan seandainya mereka tidak mendapatkannya?

Rumah tangga para pahlawan selalu menampilkan, atau bahkan menjelaskan, banyak sisi dari kepribadian para pahlawan. Dari sanalah mereka memperoleh energi untuk bekerja dan berkarya. Tapi jika mereka tidak mendapatkan sumber energi itu, maka kepahlawanan mereka adalah keajaiban di atas keajaiban. Tentulah ada sumber energi lain yang dapat menutupi kekurangan itu, yang dapat menjelaskan kepahlawanan mereka.

Ibnu Qoyyim menceritakan kisah Sang Imam, Muhammad bin Daud Al Zhahiri, pendiri mazhab Zhahiriyah. Beberapa saat menjelang wafatnya, seorang kawan menjenguk beliau. Tapi justru Sang Imam mencurahkan isi hatinya, kepada sang kawan, tentang kisah kasihnya yang tak sampai. Ternyata beliau mencintai seorang gadis tetangganya, tapi entah bagaimana, cinta suci dan luhur itu tak pernah tersambung jadi kenyataan. Maka curahan hatinya tumpah ruah dalam bait-bait puisi sebelum wafatnya.

Kisah Sayyid Quthub bahkan lebih tragis. Dua kalinya ia jatuh cinta, dua kali ia patah hati, kata DR. Abdul Fattah Al-Khalidi yang menulis tesis master dan disertasi doktornya tentang Sayyid Quthub. Gadis pertama berasal dari desanya sendiri, yang kemudian menikah hanya tiga tahun setelah Sayyid Quthub pergi ke Kairo untuk belajar. Sayyid menangisi peristiwa itu.

Gadis kedua berasal dari Kairo. Untuk ukuran Mesir, gadis itu tidak termasuk cantik, kata Sayyid. Tapi ada gelombang yang unik yang menyirat dari sorot matanya, katanya menjelaskan pesona sang kekasih. Tragedinya justru terjadi pada hari pertunangan. Sambil menangis gadis itu menceritakan bahwa Sayyid adalah orang kedua yang telah hadir dalam hatinya. Pengakuan itu meruntuhkan keangkuhan Sayyid; karena ia memimpikan seorang yang perawan fisiknya, perawan pula hatinya. Gadis itu hanya perawan pada fisiknya.
Sayyid Quthub tenggelam pada penderitaan yang panjang. Akhirnya ia memutuskan hubungannya. Tapi itu membuatnya semakin menderita. Ketika ia ingin rujuk, gadis itu justru menolaknya. Ada banyak puisi yang lahir dari penderitaan itu. Ia bahkan membukukan romansa itu dalam sebuah roman.

Kebesaran jiwa, yang lahir dari rasionalitas, relaisme dan sangkaan baik kepada Allah, adalah keajaiban yang menciptakan keajaiban. Ketika kehidupan tidak cukup bermurah hati mewujudkan mimpi mereka, mereka menambatkan harapan kepada sumber segala harapan; Allah!

Begitu Sayyid Quthub menyaksikan mimpinya hancur berkeping-keping, sembari berkata, “Apakah kehidupan memang tidak menyediakan gadis impianku, atau perkawinan pada dasarnya tidak sesuai dengan kondisiku?” Setelah itu ia berlari meraih takdirnya; dipenjara 15 tahun, menulis Fi Dzilalil Qur’an, dan mati di tiang gantungan! Sendiri! Hanya sendiri!
__________________

Kamal Haziq,
Manchester,
Anggaran jam 2.45 am, 9 Januari 2011 M / 5 Safar 1432 H

Tuesday, January 4, 2011

Singsingkan Lengan Baju...

Bismillahirrahmanirrahim...dan Assalamualaikum.

Katakanlah: 'Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik'. [Yusuf, 12 : 108]
--------------------

Dahulu,


Sekarang,


::: Menuju 'daulatur risalah' (negara risalah) :::

Daulatur risalah - Suatu frasa yang beberapa kali diulang oleh Presiden Pertubuhan IKRAM Malaysia, Dr Mohd Parid dalam beberapa siri penyampaian beliau semasa di Perhimpunan Musim Sejuk anjuran Majlis Syura Muslimun (MSM) tempoh hari.

Ya Allah, golongkanlah kami dalam golongan yang termasuk dalam rahmat dan redha-Mu.

Ya Allah, golongkanlah kami dalam golongan mukhlisin, golongan yang ikhlas kerana-Mu.

Ya Allah, selamatkanlah dari api neraka-Mu, dan masukkanlah kami ke dalam syurga-Mu.
"Maka sahabat, berjuanglah, raih kemenangan, tanpa harus merasa menjadi sang pemenang" - Izzatul Islam, Arti Kemenangan
 ---------------------------------

Kamal Haziq,
Manchester,
1.47 am, 4 Januari 2011 M / 29 Muharram 1432 H.

Taubat itu Kemenangan

Bismillahirrahmanirrahim...dan Assalamualaikum.

Lama sungguh tidak menulis di sini :)
Moga semua dalam keadaan sihat sejahtera.

----------------------------

Manusia, lelaki khususnya, dicipta dengan pelbagai sifat yang mewarnai dirinya. Jika kita berbicara tentang salah satu sifat itu, lelaki, biasanya tidak mengenal erti 'kalah'. 'Kalah' di sini bermaksud dalam sebahagian, kebanyakan atau dalam apa-apa sahaja situasi yang dihadapi, dia tetap akan mencari jalan untuk menyatakan bahawa dia itu berada di pihak yang benar, meskipun sudah terang-terangan dia melakukan kesalahan.

Jika dinasihati, dia tidak mahu mendengar.
Jika dimarahi, dia membalas dengan magnitud yang lebih tinggi.
Jika dia menang, barulah dia akan berpuas hati.

Itulah dia sikap EGO.

Hasil daripada sikap ego demikian, terdapat manusia yang senantiasa melakukan kesalahan. Bukan kepada manusia mahupun binatang semata-mata. Tetapi lebih dahsyat dari itu. Kesalahan-kesalahan yang dilakukan itu mampu untuk menggerakkan alam untuk bersatu menentang jiwa-jiwa mereka yang maha kerdil itu.

Itulah dia kesalahan kepada SANG PENCIPTA, Allah SWT.

Alam semuanya tunduk kepada-Nya, dan ini bermakna jika anda melakukan suatu kesalahan kepada Penciptamu, maka anda sebenarnya sedang mengundang bencana daripada alam yang tidak putus-putus bertasbih kepada-Nya.

Telah bertasbih kepada Allah apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi; dan Dialah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [As-Shoff, 61 : 1]

Di sebalik segala kemungkaran tersebut, ada sebilangan yang menyedari hakikat kesalahan yang mereka lakukan. Mereka menyesal. Mereka takut. Mereka menangis. Tetapi, mereka berputus asa untuk kembali ke jalan kebenaran. Mengapa? Kerana mereka merasakan bahawa dosa yang mereka lakukan kepada Sang Pencipta itu terlalu banyak sehinggakan terasa amat mustahil untuk diampunkan. Mereka merasakan bahawa mencari keampunan Sang Pencipta itu ibarat mengharapkan tumbuhnya pepohon anggur di tengah-tengah padang pasir yang panas membara.

Sebenarnya, kita tidak perlu bersikap demikian. Kedua-duanya jangan.
Kita tidak seharusnya ego kepada Sang Pencipta.
Juga, kita tidak seharusnya berputus asa kepada Sang Pencipta.


Kerana, Dia sebenarnya menunggu hamba-hamba-Nya kembali pada-Nya, dengan rahmat-Nya yang luas meliputi seluruh langit dan bumi.

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. [Ali Imran, 3 : 133]

Ingat, Allah SWT bukan seperti kita. Andai terdapat manusia lain yang melakukan kesalahan kepada kita dan meminta ampun kepada kita, tidaklah begitu mudah kadang-kala untuk kita mengampuni kesalahan orang tersebut. Bahkan, kita mungkin menyimpan dendam kesumat di dalam dada kita terhadap orang tersebut. Tetapi, Allah SWT itu Maha Pengampun. Ya, Maha Pengampun. Dia menanti kita!

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. [Ali Imran, 3 : 135]

Dan ke manakah kesudahan bagi mereka yang kembali pada-Nya? Mudah sahaja.

Di sebuah tempat yang tidak pernah mampu difikirkan oleh akal manusia yang terbatas ini.
Di sebuah tempat yang keindahannya tiada tandingannya.
Di sebuah tempat yang di dalamnya hanya ada bahagia.

Itulah dia SYURGA.
Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan syurga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal. [Ali-Imran, 3 : 136]
-------------------------

Anda merasakan bahawa anda manusia paling bersalah kepada Sang Penciptamu dalam dunia ini? Jangan putus harapan. Kerana harapan itu masih ada.

Buanglah egomu kepada-Nya, dan Dia menantikan kepulanganmu pada-Nya.

Kembalilah kepada-Nya, dan Dia akan memberikan kemenangan kepada dirimu di hari yang tiada lagi naungan selain daripada naungan-Nya...

__________________

Kamal Haziq,
Manchester,
Anggaran jam 1.00 am, 4 Januari 2011 M / 29 Muharram 1432 H.

Thursday, October 21, 2010

Mengenal Golongan Syaitan

Bismillahirrahmanirrahim...dan Assalamualaikum...

Apakah yang ingin disampaikan di sini?
Mudah sahaja, untuk kita sama-sama mengenali siapakah 'syaitan' itu sebenar-benarnya.

Sumber: e-book Materi Tarbiyyah (Rasmul Bayan)

Kiranya sekarang dah kenal kan siapa itu 'syaitan' kan? Bukan sekadar yang ghaib daripada pandangan sahaja, tetapi  juga yang zahir.

Kalau nak tahu lebih lagi, bolehlah kaji ayat-ayat yang tercatat dalam rajah di atas.

Wallahualam.

p/s: Jazakallah khair kepada murabbi, Akh Khalis kerana menyampaikan bahan ini :)

Monday, August 9, 2010

Memori Khidmat Negara

Bismillahirrahmanirrahim...dan Assalamualaikum.
Lama menyepi, pohon seribu kemaafan.






1. Diri ini pernah diberikan peluang untuk bersama-sama menyertai Program Latihan Khidmat Negara (PLKN), 3 tahun dahulu.


2. Banyak pengalaman yang baik diperoleh.
- Kem di dalam hutan, ada tasik di tengahnya. Kondusif untuk menetap selama tempoh 3 bulan. Lupa hendak menyebut, nama Kem sudah mantap, Kem Rimba Taqwa, di Sik, Kedah.
- Makanannya enak, cumanya pinggan dan cawan kena dijaga sendiri. Juga, penginapannya baik, sebilik maksimum 8 orang.
- Bergaul bersama pelbagai bangsa (di mana bilik sendiri terdiri daripada orang Melayu, Cina, dan Siam). Juga, bersama-sama masyarakat dari pelbagai latar belakang.
- Secara fizikalnya, memang diuji, dengan kawad kakinya, aktiviti hutannya, aktiviti airnya, menembak, dan lain-lain.
- Secara mentalnya, terdapat kelas-kelas kenegaraan yang menambahkan input dalam diri. Juga, terdapat kelas pembinaan karekter.
- Namun, ada satu aspek yang diri ini kurang melaksanakan. Aspek bersosial dengan rakan silang jantina. Jika dibandingkan dengan ramai rakan di sana, diri ini boleh dikatakan tidak terlalu rapat dengan rakan silang jantina.


* Kesimpulannya, pengalaman di PLKN adalah bermanfaat buat diri.


3. Bi'ah Islam di kem?
- Bagi pendapat diri, meskipun banyak sahaja tazkirah mahupun ceramah diberikan, bi'ah di kem tidak boleh dikatakan bi'ah solehah. Jauh sekali.
- Solat Subuh, jika ada yang terlewat bangun, maka alamatnya adalah yang terlepas solat Subuh, dek kerana ketakutan didenda oleh pegawai bertugas. Solat Subuh adalah wajib di surau. Oh ya, kami dikehendaki siap berkumpul...bukan baru bergerak untuk berkumpul ya....di padang kawad selewat-lewatnya pada jam 7 pagi (jika tidak tersilap). Dari surau, diri ini keluar memakai dan mengikat tali kasut, biasa ternampak kelibat rakan-rakan dari atas bukit, dari tempat kawasan penginapan, turun beramai-ramai, terus melepasi surau dan ke arah padang kawad.
- Tentang ikhtilat lelaki-perempuan, tidak boleh dikatakan benar-benar terjaga. Ada yang apabila telefon, menggunakan sahaja perkataan yang boleh menggegarkan hati pihak yang satu lagi.
- Ceramah-ceramah keagamaan sangat sedih sekali, di mana para peserta sentiasa perlu ditegur, kerana terlalu bising semasa ceramah.


*Kesimpulannya, jauh lagi pemuda-pemuda kita ini hendak mencapai status "Masyarakat Muslim" yang berjaya. Kerana nilai-nilai Islam masih belum dapat diterapkan dalam diri ramai pemuda.

Thursday, July 1, 2010

Bayang-bayang

Bismillahirrahmanirrahim...dan Assalamualaikum...




Suatu kefahaman tentang cerita perihal bayang-bayang, yang pernah diceritakan oleh seorang sahabat:

Cuba hadirkan suatu makanan yang enak dalam fikiran kita. Kita sudah pasti akan suka makanan tersebut, bukan? Nasi kandar, nasi lemak, western food, dan lain-lain makanan yang kita suka. Wah, sedapnya! 

Sekarang, cuba bayangkan tentang syurga? Sudah pasti akal kita yang terbatas itu tidak dapat memikirkan perihal syurga, bukan? Mungkin, jika kalian perhatikan Surah Ar-Rahman, ada perihal keindahan syurga, namun, dapatkah kita benar-benar membayangkan keindahan syurga itu?

Sebenarnya, jika hendak dibandingkan, syurga diibaratkan sebagai makanan itu, dan dunia hanyalah bayang-bayang kepada makanan itu. 

Itu pun sudah enak, lazat...tetapi di syurga nanti?

Adakah kita mengejar bayang-bayang, atau realiti?

Monday, June 14, 2010

Selesaikanlah...atau akan hilanglah dia...

Bismillahirrahmanirrahim...dan Assalamualaikum.

Mungkin ada yang akan terasa dengan post kali ini, tetapi, kritikan yang baik itu akan dapat membina, dan kutuk-mengutuk itu suatu perbuatan yang keji. Maka, saya pilih kritikan, dan ini hanyalah pendapat peribadi. Juga dimaklumkan tidak ada nama sesiapa pun yang disebut dalam ini.
___

Mutarabbi dan Baitul Muslim (Situasi Umum yang boleh berlaku)


Mungkin ada di kalangan murabbi yang mempunyai mutarabbi yang sememangnya hendak ber'baitul muslim'. Hendak, mahu dan rela. Tidak dipaksa.

Dan tatkala di awal tarbiyyah, dalam tahun pertama seseorang murabbi (guru) itu bersama mutarabbi (anak murid) itulah katakan, mungkin, jika seseorang mutarabbi itu hendak berbicara tentang hal baitul muslim bersama-sama murabbinya, akan ada murabbi yang sentiasa 'tidak mahu' atau 'tidak sudi' untuk berbicara tentang hal baitul muslim ini, atau menganggap mutarabbinya itu hanyalah bermain-main, dan menganggap mutarabbinya itu ada sindrom penyakit hati yang biasa di kalangan pemuda.

"Enta kenalah bina diri dahulu!"
"Akhi, awal lagi. Jauh lagi perjalanan kita."
"Enta dah bersedia ke? Duit ada? Famili ok? Dah cukup ilmu? Ruhi dah mantap?"
"Lupakan dulu akhi. Banyak lagi kerja yang enta boleh fikirkan daripada perkara ini."

Akan ada sahaja persoalan dan pernyataan yang keluar daripada murabbi itu, seakan-akan men'down'kan mutarabbinya.

Padahal, mutarabbinya itu serius ingin berbicara dengannya!
Serius ingin melanjutkan langkahnya ke arah baitul muslim!
Serius hendak memelihara dirinya daripada maksiat!
Serius ingin menjadikan dakwahnya maju dengan naiknya dirinya ke marhalah kedua!

Tetapi murabbi itu tidak mahu melayannya. Apa perasaannya? Lama-lama mungkin, dia akan 'give up' dengan murabbinya. Akan kecewa dengan murabbinya.

"Ana sudah berputus asa dengan naqib ana. Dia tidak akan mahu berbicara tentang hal ini dengan ana. Meskipun ana serius ingin berbicara dengannya. Lebih baik ana mengorak langkah sendiri, daripada menunggu sesuatu yang tidak pasti. Ana kecewa dengannya."

Ya, pembinaan diri dan persediaan itu penting. Namun, sampai bila hendak menggunakan alasan itu? Sampai mutarabbi itu berasa 'give up' dengan murabbinya mahupun dengan pimpinan jemaahnya? Sampai mutarabbinya kecewa dengan murabbinya? Maka jika demikianlah, murabbi itu silalah menjawab dengan Allah SWT jika kerana hal baitul muslim ini menyebabkan mutarabbinya (yang sememangnya tidak mahu menangguh lagi) tersilap memilih calon pasangan hidupnya yang akhirnya akan menyebabkan dirinya terasing daripada jalan dakwah ini. Dan ini berpunca daripada ketidaksudian murabbinya untuk berbicara hal ini dengan mutarabbinya.

Itu adalah antara senario yang boleh terjadi.

Daripada boleh dibina dan dikerahkan sebagai tentera Allah, akhirnya mutarabbinya itu hilang daripada radar dakwah, hanya kerana satu isu ini. Bahaya itu.

Maka, lebih baik 'mendiamkan' mutarabbi daripada 'menghilangkan' mereka daripada jalan dakwah ini.

Wallahualam, sekadar pandangan.

p/s: Saya berazam, jika ada mutarabbi kelak, bahawa jika ada di kalangan mereka yang benar-benar serius akan hal ini, maka saya akan berjuang untuknya. Sampai ke peringkat pimpinan akan saya suarakan hasrat mereka. Di samping memberikan taujih (penyampaian), pembentangan fikrah dan pengenalan terhadap Islam yang sebenarnya, saya tidak akan membenarkannya 'give up' dengan dakwah kita hanya kerana satu isu ini. Banyak lagi isu yang lebih besar yang mampu diperjuangkan.

Flotilla

Bismillahirrahmanirrahim...dan Assalamualaikum...


Lebih kurang 2 minggu sudah berlalu semenjak serangan tentera negara haram Israel terhadap aktivis keamanan di atas Flotilla.

Seperti adaptasi daripada pendapat seorang sahabat, kemenangan bukanlah titik akhir kepada suatu perjuangan, tetapi merupakan 'the stepping stone' kepada suatu proses yang lebih besar.

Dan tragedi flotilla tersebut adalah suatu kemenangan, meskipun 'blockade' Gaza masih lagi belum dapat ditembus. Ini adalah kerana peristiwa inilah yang insya-Allah bakal merintis kejayaan di masa hadapan. Lihat sahajalah reaksi selepas tragedi tersebut. Satu dunia, dari Amerika Utara, Amerika Selatan, Afrika, Eropah, Asia dan Australia...6 benua, carilah mana satu benua yang tidak berdemonstrasi?

Namun, demonstrasi bukanlah jalan yang mampu mematahkan kegiatan durjana Israel. Mereka tidak pernah dan tidak akan mendengar. Ketegasan semata-mata tidak akan membanteras kedegilan mereka. Akan tetapi 'actions' yang sebenar-benarnya barulah dapat menghentikan mereka.

Dan kepada para da'ie, kerjanya adalah ini - teruskan membina manusia.
Betapa ramai lagi kawan-kawan dan ahli keluarga kita yang langsung tidak tahu tentang Palestin...
Mungkin ada langsung yang tidak ambil tahu tentang tragedi bersejarah ini.

Kerana ada yang tidak dapat bersama-sama di medan perang - kerana Allah mentakdirkan bagi mereka melalui jalan ilmu, jalan tarbiyyah, jalan siyasah (politik)  dan lain-lain jalan - maka itulah dia, medan pertarungan mereka adalah untuk mencetak manusia, produk-produk yang akan meneruskan kerja-kerja Rasulullah SAW hinggalah ke suatu masa yang ditentukan oleh Allah SWT, mahupun melaksanakan dasar syariat Islam di negara masing-masing untuk manfaat umat sejagat.

Wallahualam.

p/s: Sesudah berdemonstrasi, melaung-laung, berteriak-teriak tentang kehancuran Israel, adakah semangat itu masih ada....?

Saturday, May 29, 2010

Izzah

Bismillahirrahmanirrahim...dan Assalamualaikum.

Maaf, lama menyepi dari arena ini.

Bermacam-macam alasan boleh diberikan, tetapi, ayuh, kita lihat ke masa hadapan yang lebih gemilang...

"Jadikanlah masa lampau yang gelap itu sebagai titik perubahan, bukanlah sebagai medan untuk mengkritik seseorang itu" - Ini yang difahami daripada kata-kata seorang rakan.

Namun sekarang, masih lagi diri ini dalam musim imtihan (peperiksaan), jadi mungkin tidak dapat untuk terlalu aktif di sini.

Doakan, diri ini mampu bangkit dan kembali aktif selepas tamatnya peperiksaan nanti ya :)

Nota kaki:
1) Ayuh sama-sama kita doakan 'flotilla' yang berusaha untuk ke Gaza bagi menghantar bantuan kemanusiaan kepada rakyat Gaza yang menderita sekian lama. Boleh lihat 'live streaming' dari atas kapal di sini.
2) Malaysia...apa sudah jadi... Boleh bacakan artikel Dr Maza di link ini. Kita doakan agar Malaysia tidak dihancurkan oleh orang-orang mana sekalipun (tidak kisahlah pro ke arah pemerintah atau pembangkang) yang hanya mementingkan kepentingan sendiri.
3) Bangkitkanlah izzah (kemegahan) dalam diri kita bahawa kita ini ialah seorang Muslim yang Mukmin. Banggalah dengan kenyataan, "Saksikanlah, bahawa aku seorang muslim!".

Wallahualam.

Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya [As-Shoff, 61 : 8]

Monday, March 22, 2010

Fikrah Kita

Bismillahirrahmanirrahim...dan Assalamualaikum.
Fikrah itu pemikiran.

"Fikrah kita mesti seluas fikrah Islam itu sendiri"
Begitulah kata-kata seorang pemimpin kepada para pendokong dan pengikut yang mendengarinya.

Islam itu luas, meliputi segala aspek kehidupan. Cakap sahaja apa. Politik, ekonomi, sosial, sains, perundangan, akhlak, ruhiyah, ilmiah, riadhah? Semua ada. Jika ada yang tiada, sila kemukakan.

Kita pula? Adakah kita ada semua?

Wallahualam.
Moga Allah membantu kita.

Sunday, March 21, 2010

Kesiapan Menjadi Naqib


Bismillahirrahmanirrahim...dan Assalamualaikum.
Dipetik dan diolah dari link berikut:

QUALITY PRODUCTS begin with a QUALITY PERSON and QUALITY THINKING
Materi Pembahasan
1. Quality Person
Motivasi
1. Apakah antum benar-benar bersedia menjadi naqib?
2. Apakah antum memiliki keinginan untuk posisi ini?
3. Bagaimana perasaan antum jika tidak terpilih menjadi naqib?
4. Sebutkan hal-hal apa yang menyebabkan antum menginginkan posisi itu? Apa yang paling utama?
5. Atau bahkan apa yang menyebabkan antum menghindar dari penunjukan menjadi naqib?
Pertanyaan-pertanyaan di atas hanya sebatas simulasi untuk mendapatkan kejelasan intima’ (afiliasi) kita pada tugas mulia ini. Mengapa kita melakukan apa yang kita lakukan? Menguji apa yang menyebabkan kita melakukan sesuatu adalah sangat penting. Penting bukan hanya bahwa motivasi sangat menentukan keberhasilan kepemimpinan, namun karena Allah mengetahui setiap hati dan senantiasa mengawasi detak hati kita. (Qs.40:19).
Allah mengikuti arah langkah hati kita, kemana saja hati itu diarahkan (Qs.53:45). Hanya dengan motivasi yang benar, ikhlas karena Allah maka segala sesuatu yang dikerjakan hamba-Nya menjadi berharga di sisi Allah. Maka menjadi keharusan bagi setiap naqib untuk selalu mengontrol hatinya agar terhindar dari jebakan-jebakan setan.
a. Hati-hati terhadap Posisi yang mendorong kita menjadi GHURUR.
- keinginan untuk menguasai
- keinginan untuk dihormati/diakui.
- keinganan untuk menjadi dikenal
b. Hati-hati dengan Perasaan TERPAKSA.
Seseorang menjadi NAQIB bisa jadi karena terpaksa, disebabkan tuntutan lapangan, kekurangan tenaga penggerak, desakan yang terus-menerus dari NAQIBnya. Maka untuk menghindari rasa bersalah dan dipersalahkan maka seorang al akh berpikir kalau dia tidak mau maka akan mengecewakan NAQIBnya, dll.
c. Hati-hati terhadap “SINDROM KESUKSESAN”.
Beberapa pemimpin, memimpin hanya untuk memenuhi hasrat dan ambisi saja. Tujuan dan sasarannya adalah hanya mengukur kekuatan, inilah yang menjadi motivasi utama di dalam hidup mereka. Cita-cita itu memang baik, tetapi akan menjadi tidak patut jika dikendalikan oleh sindrom “lebih”. Pemimpin puas jika telah melakukan lebih baik daripada pemimpin tahun lalu atau dia merasa gagal.
Contoh kepemimpinan khalid bin walid. Uraikan tentang sikap pemecatan dan sikap umar ra.
NAQIB SEBAGAI Qiyadah (Pimpinan)
Dalil-dalil tentang fungsi qiyadah sebagai pengayom sekaligus pembina ummat, Seorang NAQIB dalam fungsinya sebagai pembina ummat, Memimpin dan membimbing, Membina dan mengajar dengan benar, Merawat, melindungi dan melayani, Bertanggung jawab terhadap usrah.
Seorang NAQIB adalah orang yang Allah beri kepercayaan untuk memimpin umat binaannya. Pemimpin harus kembali mempertanggung jawabkan segala perbuatannya kepada Allah. Seorang NAQIB harus konsisten dan komitmen dan menyelesaikan tugasnya dengan optimal. Lihat tentang hadits-hadits berkaitan dengan amanah dan tanggung jawab.
NAQIB SEBAGAI Syuyukh
Kematangan rohani adalah menyadari diri belum dewasa atau matang. Kedewasaan/kematang an rohani adalah proses yang sedang dijalani, bukan tingkat yang telah dicapai. Belajar seumur hidup bukanlah suatu hal yang alamiah. Berikut adalah sikap yang diperlukan untuk dapat belajar seumur hidup.
BERSEDIA DIAJAR.
Kita belajar karena mengasumsikan bahwa ada hal-hal yang kita tidak tahu dan ada sumber-sumber yang dapat mengajar kita. Sayangnya kita sering bersikap, ” Saya suka belajar tetapi saya tidak suka diajar !” Sikap ini mungkin disebabkan oleh rasa tidak suka mengakui bahwa orang lain tahu lebih banyak daripada kita. Baik harga diri maupun rasa takut mengakui kesalahan dapat menghalangi kita bersikap mau diajar. Surat AnNajm:53
INISIATIF.
Murid sejati tidak hanya bersikap terbuka terhadap mereka yang berinisiatif untuk mengajar, tetapi juga berinisiatif untuk belajar pada saat tidak ada orang yang mengajar.
NAQIB SEBAGAI Ustadz
Seorang NAQIB adalah ibarat seorang petani. Setiap hari ia menaburkan rupa-rupa benih: benih kepribadian, disiplin, perilaku, iman, ilmu, pelayanan, kejujuran, keuletan, kemandirian, moral, benih kasih dll. seorang NAQIB harus memiliki titik berangkat sikap optimisme dan pengharapan. Petani menabur benih karena optimis bahwa benih itu akan jadi. Seorang NAQIB mendidik karena mempunyai optimisme bahwa tiap mad'u (orang yang ditarbiyyah) bisa belajar dan berkembang.
Optimisme tentunya juga perlu disertai dengan sikap realitis. Tidak semua benih tumbuh subur. Ada benih yang jatuh di tanah yang keras dan berbatu, ada pula yang jatuh di tanah yang gembur. Demikian juga tidak semua bahan didikan tumbuh subur dalam diri mad'u. Sebab itu untuk mendapatkan hasil yang optimal lahan perlu diolah dan disuburkan. Benih pendidikan akan tumbuh subur bila lahannya kondusif (bersifat mendukung, memberi peluang untuk hasil yang mau dicapai).
Menabur benih pun perlu banyak tindak lanjutnya. Setiap hari tanaman itu perlu disiram. Tanahnya perlu digemburkan. Rumput liar di sekitarnya di cabut. Hama pengganggu disingkirkan. Secara periodik perlu diberi pupuk dan lain sebagainya. Semua itu perlu dilakukan secara teliti, tekun dan sinambung. Seorang petani memang berjerih lelah. Ia mau berlelah dan bersusah.
Seorang NAQIB perlu sabar. Tidak mungkin hari ini menabur lalu besok menuai. Perlu waktu yang cukup lama untuk memperoleh hasil. Pendidikan selalu terjadi dalam proses jangka panjang. Tidak ada pendidikan yang bisa terjadi secara mendadak. Tidak bisa kita mengubah sifat malas dalam satu minggu atau memperbaiki kepribadian dalam satu hari. Oleh karena itu diperlukan komitmen dan disiplin yang kuat dari seorang NAQIB.
NAQIB SEBAGAI Ayah
Seorang NAQIB harus menciptakan suasana yang paling menguntungkan agar mad'u dapat tumbuh dengan wajar seperti :
- Memberi semangat dengan menonjolkan segi-segi terbaik dari masing-masing mad'unya,
- Membangun rasa percaya diri mad'u dan mendorong mad'u menggunakan kemampuan-kemampuan dengan cara memberi kesempatan kepada mereka untuk berkhidmat di usrah atau merekomendasi mad'u untuk program-program khidami.
- Mendengarkan secara aktif dengan memusatkan perhatian pada mad'u yang sedang berbicara sambil mengajukan pertanyaan-pertanya an yang memperjelas isi pembicaraan.
- Bersikap terbuka terhadap usul mad'u, dan menolong mad'u untuk mengungkapkan apa yang mereka pikirkan dan rasakan.
- Peka menilai hubungan antar mad'u, membangun keharmonisan dan kesepakatan, menyelesaikan konflik-konflik dan ketidak sesuaian pendapat di antara anggota dengan cara menganalisa perbedaan-perbedaan itu secara obyektif dan berusaha mencari titik temu.
Seorang petani (NAQIB) adalah orang yang optimis dan idealis, namun juga tidak lepas dari rasa cemas dan was-was. Ia khawatir apakah benihnya akan bertumbuh dengan baik, soalnya ia tidak dapat berdaya apa-apa untuk menumbuhkan benih itu. Memang tiap hari ia sudah mencangkul dan menyuburkan lahan . Memang tiap hari ia menyiram. Tetapi pertumbuhan benih itu betul-betul berada diluar batas kemampuannya. Pertumbuhan benih bukan tergantung pada petani, melainkan dari faktor lain. Namun justru adanya faktor lain itulah yang menyebabkan seorang petani optimis dan idealis. Baca Ma’alim fit thariq bab ‘Generasi Quran yang Unik’
II. QUALITY THINKING
Seorang pemain catur yang baik adalah pemain yang tahu pembukaan dan strategi apa yang akan dijalankan, tahu bagaimana dia akan mengakhiri pertandingan (babak akhir yang akan dicapai), serta kreatif di babak tengah guna mengarahkan permainan ke babak akhir yang telah di tetapkan.
Demikian pula seorang NAQIB yang baik adalah mereka yang tahu langkah awal yang harus dilakukan, dan kreatif selama proses tarbiyah untuk mengarahkan pengkaderan itu ke sasaran akhir sesuai dengan visi tarbiyah. Seorang NAQIB yang baik bukan hanya memiliki tsaqofah yang kuat, tetapi juga dituntut untuk mampu berfikir dengan teliti (quality thinking) dan membuat perencanaan ke depan. Setiap pertemuan adalah moment yang berharga — yang Allah berikan kepada kita. Seorang NAQIB harus menghargai setiap kesempatan yang Tuhan berikan dengan mempersiapkan diri secara optimal dan merencanakannya secara bertahap dan berkesinambungan. Semuanya ini membutuhkan kerja keras dan waktu yang disediakan untuk mengayomi.
Wallahu a’lam

Solat Dhuha!

Bismillahirrahmanirrahim...dan Assalamualaikum...

Cukuplah dengan tiga siri Kekuatan Saf sebelum ini. Untuk terus memikirkan perkara-perkara yang besar, kita mestilah menyelesaikan perkara-perkara yang kecil dahulu, bukan? Kerana hal-hal kecil inilah yang akan membentuk tapak untuk pembinaan struktur yang kukuh.

Kukuhnya tapak, maka kukuhlah struktur, dan struktur yang lebih tinggi dapat dibina. Seperti kukuhnya qaedah sulbah (kumpulan tulang belakang / core group) dakwah Islamiyyah di Makkah-Madinah, dan seterusnya merekalah pencetus inqilab (revolusi) Islam hinggalah berjaya menguasai al-Andalus hinggalah ke Nusantara.

Lemahnya tapak, maka lemahlah struktur, dan jika dicuba bina struktur yang tinggi, maka roboh dan hancurlah struktur itu. Seperti contohnya, sistem dan perundangan Islam yang tidak berjaya lagi dilaksanakan sepenuhnya di Malaysia, akibat tekanan daripada pelbagai pihak, termasuk orang Islam sendiri. Salimun aqidah (aqidah yang sejahtera), di manakah kamu?

Di sini, penulis ingin membicarakan tentang solat dhuha.



Tahukah kalian, bahawa solat dhuha itu sebenarnya membawa hikmah dan rahmat yang besar kepada sesiapa yang melaksanakannya? Namun, sayangnya, tidak ramai orang Islam yang tahu atau ambil serius perkara ini.


Dari Abu Dzar, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda:
“Pada pagi hari setiap tulang (persendian) dari kalian akan dihitung sebagai sedekah. Maka setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, memerintahkan kebaikan (amar ma’ruf) dan melarang dari berbuat munkar (nahi munkar) adalah sedekah. Semua itu cukup dengan dua rakaat yang dilaksanakan di waktu Dhuha.” 
[HR. Muslim, Abu Dawud dan riwayat Bukhari dari Abu Hurairah]

Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Kekasihku Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah berwasiat kepadaku tiga perkara: puasa tiga hari setiap bulan, dua rakaat shalat Dhuha dan melaksanakan shalat witir sebelum tidur.”
[HR. Bukhari, Muslim, Turmuzi, Abu Dawud, Nasa’i, Ahmad dan Ad- Darami]

Dari Zaid bin Arqam, bahwa ia melihat orang-orang mengerjakan shalat Dhuha [pada waktu yang belum begitu siang], maka ia berkata: “Ingatlah, sesungguhnya mereka telah mengetahui bahwa shalat Dhuha pada selain saat-saat seperti itu adalah lebih utama, karena sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Shalatnya orang-orang yang kembali kepada ALLAH adalah pada waktu anak-anak onta sudah bangun dari pembaringannya karena tersengat panasnya matahari”.
[HR. Muslim]

Alangkah ruginya jika orang ramai tidak mengambil serius tentang waktu ini! Sesungguhnya, pada waktu inilah Allah memberikan peluang untuk membuka pintu rezeki kepada hamba-hamba-Nya. Kalaukan manusia memberikan tawaran wang yang banyak secara percuma kita sangat sukakan, apatah lagi pemberian daripada Allah, penguasa seluruh alam, yang Maha Kaya dan Maha Pemurah. Tidakkah cukup untuk memberikan kita motivasi untuk mengejar pemberian-Nya?

Lebih-lebih lagi kepada para da'ie. Ada seorang rakan penulis mengibaratkan solat dhuha itu sebagai 'breakfast' kepada para da'ie. Begitulah besarnya rahmat daripada solat dhuha.

Wallahualam.
Moga kita bersama-sama berusaha melaksanakan solat dhuha secara konsisten dan istiqamah dalam hidup kita, di samping sentiasa memperkasakan solat fardhu kita. 

Moga Allah membantu kita. Amin.

“Tiada sekali-kali Tuhanmu meninggalkanmu..." [Ad-Dhuha, 93 : 3]

Friday, March 19, 2010

Kekuatan Saf III : Syura

Bismillahirrahmanirrahim...dan Assalamualaikum.

(Catatan: Ini adalah siri ketiga daripada pengamatan diri tentang kekuatan saf, berdasarkan pengamatan sendiri, kajian yang tidak seberapa, atau pengalaman sendiri yang masih 'muda' dalam arena ini. Diri ini masih belajar, maka jika tersalah, sila tegur ya. Post ini adalah sekadar pandangan peribadi tentang tajuk, meskipun diri ini mungkin tidak layak lagi untuk berbicara hal besar ini. Diulang, pandangan peribadi. Sama-samalah kita belajar ya.)
"..Maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan tetap bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.." [Ali-Imran, 3 : 159] 
Ulasan mengenai asbabun nuzul ayat ini boleh dibaca di sini. Juga tentang konteks syura. Bacalah ya. Rasulullah SAW juga mengamalkan syura, jadi, wajarlah kita untuk sama-sama mengikuti sunnah baginda, bukan?

Sebelum meneruskan penulisan, penulis hendak menjelaskan bahawa dirinya sendiri pernah terlibat dalam perbincangan syura. Dalam usrah juga ada syura kecil-kecilan, bukan? Murabbinya mengambil peranan sebagai qiyadah (pimpinan) kecil, dan para mad'u (ahli usrah/anak usrah) menjadi ahli syura kecil.



Mungkin akan ada yang menyatakan, jika sudah kuat hubungan dengan Allah, dan sudah tiada lagi asbab untuk Allah tidak memberikan pertolongan, serta ukhuwwah yang rapat sudah dibentuk, maka peringkat seterusnya dalam kekuatan saf harakah Islam (gerakan Islam) itu ialah melalui sistem tanzim (organisasi) yang kukuh.

Bagi penulis, tidak begitu.

Untuk menubuhkan salah satu tanzim atau wadah atau jemaah sekalipun, semestinya memerlukan perbincangan yang kukuh, bukan? Di situlah kita melihat musyawarah atau syura, sesama para ahli perintis.

Setelah itu, apabila hendak merencanakan sesuatu perancangan, atau hendak melaksanakan sesuatu kegiatan, atau hendak membicarakan pembaharuan hala tuju setelah beberapa lama, para ahli akan bersama-sama berkumpul dan berbincang. Bersyuralah itu, bukan?

Di sini sudah nampak kepentingan dan kekuatan syura. Dan, mengatasi kekuatan tanzim itu sekali. Kerana sesuatu tanzim itu akan roboh dan hancur, kerana tiadanya syura yang dilaksanakan secara baik sesama para qiyadah. Tanpa syura yang mantap, dan tertib, maka tiada langsung perbincangan dan diskusi yang dapat dilaksanakan. Justeru, tanzim langsung tidak akan dapat berfungsi, kerana kerosakan di atas akan membawa kepada kerosakan hinggalah ke lapisan penggerak yang terakhir sekali.

Syura ada akhlak-akhlaknya. Sepertimana untuk menubuhkan sesuatu organisasi itu ada perlembagaan atau peraturan yang ditetapkan oleh para perintis atau qiyadah organisasi itu, seperti itu jugalah dalam syura, ada akhlak-akhlak yang wajar dipatuhi.

Akhlak 1: Perbincangan yang baik dan menyeluruh.
Dalam syura, setiap daripada ahli majlis berhak untuk mengutarakan pandangannya secara menyeluruh. Justeru, jika ada suatu usul itu dicadangkan, dan ada yang tidak bersetuju dengan usul tersebut, maka individu tersebut dibenarkan untuk mengemukakan hujah-hujahnya dari segala aspek yang dia mampu. Justeru, dalam syura, tidak boleh ada bisikan-bisikan seperti "Dia ini, orang sudah cadang idea ini, terima sahajalah". Tidak. Syura tidak menutup potensi para ahlinya. Syura tidak mengehadkan pandangan para ahlinya. Harus dinyatakan di sini, proses di sini masih lagi dalam proses PERBINCANGAN sesama ahli majlis, belum mencapai KEPUTUSAN lagi ya.

Akhlak 2: Apabila telah diputuskan syura, maka hendaklah mengikuti.
Apabila perbincangan secara teliti dan menyeluruh telah dilaksanakan, dan kesemua pihak yang hendak mengemukakan hujah sama ada untuk menerima atau menolak usul yang dicadangkan telah mengemukakan hujah mereka, maka keputusan diambil, sama ada untuk menerima atau menolak usul. Dan, apabila keputusan sudah diputuskan, maka setiap ahli syura hendaklah melaksanakan taujih (arahan), jika diberi, setelah usul itu diputuskan. Ya, kena dilaksanakan. Kerana itulah keputusan syura. Hendaklah diingatkan, segala keputusan itu hendaklah tidak ada bercanggah dengan Al-Quran atau Hadis Rasulullah SAW, barulah prinsip sami'na wa ata'na (kami dengar dan kami taat) sah untuk dilaksanakan.

Akhlak 3: Jangan berbicara lagi tentang keputusan syura itu, setelah tamat syura. Yakinkanlah orang lain.
Ya, tidak perlu lagi ada sembang-sembang di belakang tabir tentang keputusan syura, setelah ia diputuskan dalam majlis. Sebaliknya, setiap ahli syura hendaklah meyakinkan orang lain dengan keputusan itu, dan bersama-sama melaksanakan keputusan itu.

Di sini, ada suatu ringkasan yang lengkap dan padat tentang akhlak bersyura yang ditanya oleh seseorang, dan dijawab oleh seorang sahabat (diedit sedikit daripada versi asal):
______________________________________________________________________________________________________________

Katakan saya pernah berada sebagai ahli syura. Namun, saya merasakan bahawa keputusan syura itu tidak memadai dan bermanfaat berbanding idea saya. Bagaimana ya? Kerana idea saya itu jika dalam situasi tersebut nampak sudah mantap...dan jauh lebih baik.

Jikalau idea tersebut lebih baik, mungkin perlu diperkemaskan cara berhujah. Apa = idea, Bagaimana = cara berhujah. Kedua-duanya perlu diperkasakan.

Apa pun, syura merupakan prinsip Islam dan keputusan syura perlu ditaati, walau ia bertentangan dengan idea kita. Ia banyak berkait dengan keikhlasan dan kerendahan hati kita. 

Praktikalnya, syuralah medan untuk berhujah sehabis-habisnya, dan setelah keputusan syura dibuat, kita perlu menjadi agen kepada meyakinkan orang lain dengan keputusan tersebut.

Tipsnya : Setelah bersyura, jangan cakap-cakap tentang keputusan syura tersebut. Itu adalah pintu syaitan.
_____________________________________________________________________________________________________________

Maka, jelaslah fungsi syura dalam sesuatu saf itu. Dan itulah salah satu kekuatan saf. Tanpanya, suatu saf tidak akan dapat berdiri kukuh dan utuh.


Lihat sahaja Ikhwanul Muslimin. Pemilihan barisan pimpinan Maktab Irsyad (lebih kurang seperti Jawatankuasa Pusat) dan Mursyidul Am yang ke-8 berlangsung dengan tertib beberapa bulan dahulu. Ini bukti sistem syura berfungsi dengan sebaiknya dalam Ikhwan. Kerana prinsip tsawabit (ketetapan) yang diamalkan oleh para qiyadah dan ahli-ahli Ikhwan dari dulu hingga sekaranglah yang membolehkan mereka tetap kekal kukuh sebagai salah suatu harakah Islamiyah terulung di dunia pada masa kini, 82 tahun selepas ditubuhkan oleh Imam Hasan al-Banna.

Nota: Diri ini masih belajar. Jika ada pandangan yang tidak bersetuju, silalah berikan ya.
Moga Allah membantu kita semua. Amin.

Kekuatan Saf II : Ukhuwwah

Bismillahirrahmanirrahim dan assalamualaikum.

(Catatan: Ini adalah siri kedua daripada pengamatan diri tentang kekuatan saf, berdasarkan pengamatan sendiri, kajian yang tidak seberapa, atau pengalaman sendiri yang masih 'muda' dalam arena ini. Diri ini masih belajar, maka jika tersalah, sila tegur ya. Post ini adalah sekadar pandangan peribadi tentang tajuk. Diulang, pandangan peribadi. Sama-samalah kita belajar ya.)
Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah Allah, supaya mendapat rahmat. [Al-Hujurat, 49 : 10]

Tidak dapat dinafikan lagi bahawa salah satu kekuatan umat Islam yang telah terbukti dari zaman dahulu lagi ialah ukhuwwah Islamiyah, tanpa mengira sempadan geografi dan bangsa.

Daulah Madinah, ia berjaya kerana semangat ukhuwwah dan penyatuan antara Muhajirin dan Ansar. Siapa sangka, baru sahaja kenal, namun ada daripada golongan Ansar yang sanggup menceraikan isterinya untuk dinikahkan dengan orang Muhajirin yang berhijrah.

Dalam peperangan Qadisiyyah, 3 sahabat syahid hasil daripada semangat ithar (mementingkan saudara lebih daripada diri sendiri) yang menjulang tinggi. Kehausan dan kecederaan parah tidak mampu merungkaikan ukhuwwah sesama mereka.

Ikhwanul Muslimin, tertubuh hasil ukhuwwah antara Imam Hasan al-Banna dengan para sahabat-sahabatnya dan masih kekal hingga kini. Kini, ukhuwwah yang terbentuk adalah sejagat (alamiyyah).

Muslimin di bumi Gaza, masih kekal bangkit menentang hingga ke hari ini. Mereka tetap kukuh dan teguh di belakang Hamas, meskipun pelbagai mehnah dan tribulasi dihentam ke arah mereka oleh rejim Zionis.

Jikalau hendak disenaraikan, maka terlalu banyaklah contoh di mana kekuatan ukhuwwah itu telah mampu menjana kekuatan dan kehebatan umat Islam dari dahulu hinggalah sekarang.

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan solat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." [At-Taubah, 9 : 71]

Dalam saf harakah (gerakan) Islamiyyah, tidak boleh kepentingan ukhuwwah sesama ahli dalam harakah tersebut. Hal ini adalah kerana mereka perlu bekerja bersama-sama, merancang bersama-sama dan bergerak bersama-sama dalam gerak kerja dakwah mereka. Justeru, dengan persefahaman yang baik yang hadir bersama para pendokong fikrah Islam ini, lebih-lebih lagi dalam satu tanzim (organisasi), kesinambungan gerak kerja dakwah akan dapat dicapai.

Justeru, tanpa ukhuwwah yang mantap di kalangan ahli harakah, maka kesemua itu tidak mampu terjadi. Pertelingkahan dan ketidaksefahaman boleh berlaku. Akhirnya, mungkin tidak ada satu apa pun yang mampu diraih, jika mereka tidak rapat langsung sesama sendiri. Lebih buruk lagi, fitnah demi fitnah mungkin akan diwujudkan, jika para ahli harakah senantiasa tidak sehaluan dengan orang-orang lain dalam harakahnya, yang akan membantutkan usaha-usaha dakwah, dan mungkin membawa kepada perpecahan dalaman.

Ya Rabb...tautkanlah hati-hati kami....

Ya Allah, 
Engkau mengetahui bahwa hati-hati kami ini telah berkumpul di tempat ini karena mengasihi-MU
Bertemu untuk memenuhi perintah-Mu; bersatu untuk memikul beban da'wah-Mu. 
Hati-hati ini telah mengikat janji setia untuk mendaulat dan menyokong syariat-Mu. 
Maka eratkanlah ya Allah atas ikatannya, dan kekalkanlah kemesraan di antara hati-hati ini. Tunjukkan kepada hati-hati ini akan jalan-Mu yang haq. 
Penuhkan hati ini dengan cahaya Rabbani-Mu yang tidak kunjung padam. 
Lapangkan hati ini dengan limpahan iman dan keindahan tawakkal kepada-Mu. 
Hidupkan hati ini dengan ma'rifat tentang-Mu. 
Dan jika Engkau mentakdirkan mati, maka matikanlah pemilik hati-hati ini sebagai para syuhada dalam perjuangan agama-MU. 
Engkaulah sebaik-baik sandaran dan sebaik-baik penolong.

Semoga Allah membantu kita. Amin.

Tuesday, March 16, 2010

Kekuatan Saf I : Hubungan Dengan Allah

Bismillahirrahmanirrahim...dan Assalamualaikum.

(Catatan): Siri Kekuatan Saf ni adalah penulisan tentang apa yang terbuku di hati, pengalaman-pengalaman sendiri yang tidaklah terlalu banyak, dan apa yang diperoleh daripada ilmu yang hanya secebis daripada ilmu-ilmu para syuyukh (sheikh-sheikh) mahupun "senior-senior" dalam medan ini atau mahupun anda yang sedang membaca, di mana ilmu-ilmu ini diperoleh dengan izin-Nya melalui apa-apa cara sekalipun. Jadi, apabila diri ini rasakan bahawa diri ini bersedia atau merasakan hendak menulis tentang hal-hal Kekuatan Saf, maka insya-Allah diri ini akan menulis tentangnya. Wallahualam.

Memperoleh Kemenangan Daripada Allah - 
استجلاب النصر من عند الله
(Frasa Arab dipetik daripada ceramah seorang sheikh)

Tidak perlu dipertikaikan lagi, inilah yang seharusnya menjadi kekuatan kepada Saf Harakah (gerakan) Islam di mana-mana pun.

Tidak dinafikan lagi, seperti telah dijelaskan oleh Allah dalam Al-Quran, pertolongan itu dari-Nya (sila lihat di post ini.

Tidak dinafikan lagi, kemenangan ini hanya akan diberikan oleh Allah, bila Dia hendak memberikannya. Sila lihat di sini.

Para harakah Islam merancang pelbagai metodologi untuk kembali mendaulatkan Islam di muka bumi ini. Pelbagai perancangan, perencanaan strategi, proses dilaksanakan untuk mencapai penegakan syariat di atas bumi ini.

Namun, adakah segala keringat dan perencanaan yang telah dilaksanakan dikembalikan pengharapan kepada Allah? Ketika meeting-meeting, perjumpaan-perjumpaan, mahupun muktamar-muktamar (pehimpunan-perhimpunan), adakah kita mula-mula sekali meletakkan penyerahan kepada Allah?

Atau adakah kita yakin dengan idea-idea semata-mata?
Atau adakah kita yakin dengan metode-metode semata-mata?
Atau adakah kita yakin dengan bilangan-bilangan yang besar semata-mata?
Atau adakah kita yakin dengan nama organisasi yang gah dan besar?

Sedarlah, segala kejayaan itu datang dari-Nya.
Sedarlah, segala pertolongan itu datang dari-Nya.

Mari kita sama-sama kembalikan pengharapan TOTAL kepada Allah terhadap segala apa yang kita laksanakan.

Dan, tidak cukup dengan pengharapan semata-mata, suatu saf harakah itu hendaklah benar-benar dekat hubungannya dengan Allah. Tidak mungkin suatu saf yang jauh daripada-Nya, yang jauh daripada amalan syariat-Nya, yang jauh dari bekalan-bekalan daripada-Nya, akan berjaya dalam perjuangan.

Sultan Muhammad al-Fatih, melalui bekalan-bekalan daripada solat-solat jemaah baginda, qiyamullail-qiyamullail baginda, solat-solat sunat rawatib baginda dan amal-amal lain baginda itu barulah memadai untuk baginda menawan kota Constantinople, bayangkan kita ini, yang bercita-cita hendak menawan Rom Barat, seperti kata-kata Rasulullah dalam hadis di bawah, dan seterusnya mendaulatkan Islam, bagaimana dengan amal kita?



سُئِلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْمَدِينَتَيْنِ تُفْتَحُ أَوَّلاً قُسْطَنْطِينِيَّةُ أَوْ رُومِيَّةُ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَدِينَةُ هِرَقْلَ تُفْتَحُ أَوَّلاً يَعْنِي قُسْطَنْطِينِيَّةَ

Rasulullah saw. pernah ditanya, “Kota manakah yang dibuka lebih dahulu, Konstatinople atau Rom?” Rasulullah menjawab, “Kotanya Heraklius dibuka lebih dahulu, iaitu Konstatinople” (HR Ahmad, ad-Darimi dan al-Hakim)


Bismillaahi Tawakkaltu 'Alallah...Wala haula walaa quwwata illaa billaah

Friday, March 5, 2010

Hakikat Pertolongan

Bismillahirrahmanirrahim...dan Assalamualaikum.

Pernah dibicarakan suatu masa dahulu, kemenangan itu datangnya daripada Allah semata-mata. Dan, kemenangan itu diberikan oleh-Nya kepada sesiapa sahaja yang dikehendaki-Nya; sudah pastilah untuk mereka yang dipilih-Nya itu dikasihi-Nya.

Kali ini, mari kita lihat hakikat pertolongan yang dikurniakan oleh-Nya.
"Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." [Muhammad, 47 : 7]
Berdasarkan ayat tersebut, jelaslah bahawa Allah hanya akan menolong orang-orang mukmin (ya, mukmin, bukan sekadar Muslim biasa ya), hanya jika dia telah bangun menolong agama-Nya. Jadi, dia perlu bergerak dahulu, bukan begitu?
"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar- benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik." [Al-Ankabut, 29 : 69]

Sekali lagi dinyatakan bahawa Allah akan membantu hamba-Nya, yang berjihad di jalan-Nya, hanya setelah mereka berjihad. Bukan sebelum.
"Apabila Telah datang pertolongan Allah dan kemenangan." [An-Nasr, 110: 1]
Kalau melihat Asbabun Nuzul ayat tersebut, ayat tersebut itu menerangkan tentang Fathu Makkah (pembukaan kota Makkah). Allah sendiri yang membantu orang-orang mukmin. Ya, Allah secara personal membantu orang-orang mukmin. Betapa sukarnya perjalanan ini. Kerana, memerlukan pertolongan daripada-Nya directly. Pertolongan daripada 'The Supreme Being', yang mengawal segala penciptaan dan kejadian dalam seluruh semesta! Dan semestinya daripada Pencipta Manusia dan kesemua makhluk di alam buana ini!

Ibroh (pengajaran) yang boleh diambil:
1) Pertolongan itu daripada Allah semata-mata.
2) Orang-orang Mukmin hendaklah bergerak dahulu, barulah mereka boleh mengharapkan pertolongan-Nya. Jika mereka kekal statik, bermimpilah untuk mendapat pertolongan-Nya!
3) Jalan dakwah ini sukar. Hingga Allah sendiri membantu orang-orang mukmin yang berjuang di jalan-Nya.